Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir Hingga Wafat - MAS AWAN

Advertisement 970x90

Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir Hingga Wafat

Gunawan
Desember 11, 2019

Sejarah Kisah Nabi Muhammad SAW banyak menyita perhatian dunia, karena berlatar belakang keluarga yang sederhana di tempat yang sangat jauh dari pusat peradaban pada waktu itu. Nabi Muhammad SAW memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk diketahui.

Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir Hingga Wafat

Kelahiran Nabi Muhammad SAW


Nabi Muhammad SAW lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Sayangnya, ayah beliau Abdullah meninggal ketika Nabi Muhammad SAW masih berada dalam kandungan sang ibu. Jadi, dia telah menjadi yatim bahkan sebelum dilahirkan.

Pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Bertepatan dengan hari Senin, 20 April tahun 571 Masehi.

Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dan dibesarkan sebagai anak yatim karena Abdullah, ayah Nabi Muhammad, wafat sebelum Rasulullah SAW lahir.

Disebut Tahun Gajah karena pada tahun itu pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah Habasyah yang berasal dari Abessinia, sebuah kerajaan Nasrani dari Yaman, yang ingin merobohkan Ka’bah.

Dengan kebesaran-Nya, Allah SWT menghentikan pasukan tersebut dengan mengirimkan burung-burung ababil untuk menjatuhkan batu-batu yang membawa wabah penyakit. Kejadian ini terdapat di Al-Quran, Surah Al-Fil yang berarti pasukan gajah.

Nama Nabi Muhammad SAW diberikan oleh sang kakek, Abdul Muththalib, yang kala itu adalah salah seorang yang terpandang di Makkah.

Masa Kecil Nabi Muhammad SAW


Dalam kisah sejarah Nabi Muhammad SAW, bahwa Nabi Muhammad SAW lahir dari keturunan seorang pahlawan Suku Quraisy yang berasal dari Bani Ismail di pihak ayah dan ibu, dapat dikatakan merupakan golongan bangsawan.

1. Ibu Susuan
Sudah menjadi adat kebiasaan pada masa itu, bahwa bayi para bangsawan akan disusukan dan dititipkan kepada wanita badiyah (sebuah dusun di padang pasir). Hal ini dilakukan agar para bayi dapat menghirup udara yang bersih dan terhindar dari penyakit yang ada di kota, serta dapat berbicara secara murni dan fasih.

Hingga usia 5 tahun, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Halimah Sa’diyah, ibu susuannya, sebelum kemudian dikembalikan kepada ibunya, Aminah.

2. Kematian Ibu dan Kakek
Memasuki usia 6 tahun, Nabi Muhammad SAW dibawa oleh ibunya ke Madinah untuk dikenalkan pada keluarga nenek dari pihak ibu dan untuk berziarah ke makam ayahnya. Setelah satu bulan tinggal di Madinah, rombongan ibu dan anak harus berhenti di tempat bernama Abwa’ dalam perjalanan kembali ke Makkah. Aminah meninggal di sana.

Menjadi yatim piatu, Nabi Muhammad SAW kemudian berada dalam asuhan Abdul Muththalib. Dua tahun mendapatkan curahan kasih sayang dari sang kakek, Abdul Muththalib wafat dalam usia 80 tahun.

3. Dalam Asuhan Sang Paman, Abu Thalib
Sesuai dengan wasiat dari Abdul Muththalib, hak asuh Nabi Muhammad SAW diserahkan kepada Abu Thalib. Dalam asuhan pamannya inilah, Nabi Muhammad SAW mendapatkan pelajaran hidup dengan ikut berdagang bersama sang paman dan menggembalakan kambing.

Pernikahan Dengan Khadijah


Pernikahan Dengan Khadijah

Memasuki usia dewasa, Nabi Muhammad SAW mulai mencukupi kebutuhannya sendiri dengan berdagang. Barang dagangan yang dibawanya berasal dari Khadijah, seorang janda kaya. Nabi Muhammad SAW membawa barang dagangan ke Syam dengan ditemani oleh salah seorang kepercayaan Khadijah.

Sekembalinya dari Syam dengan keuntungan yang sangat besar, Khadijah jatuh hati pada Nabi Muhammad SAW. Ditambah dengan laporan yang diterimanya, bahwa Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak mengatakan satu kebohongan pun akan barang yang dijualnya. Hal yang tidak lazim dilakukan oleh seorang pedagang.

Maka sejarah Nabi Muhammad SAW mencatat babak baru. Khadijah melamar Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu berusia 25 tahun, sementara Khadijah sendiri sudah berusia 40 tahun.

Mendapatkan Gelar Al-Amin


Al-Amin artinya orang yang dapat dipercaya. Gelar ini disematkan kepada Muhammad SAW yang terkenal memiliki sifat jujur, berbudi luhur, dan kepribadian tinggi. Tidak pernah sekali pun melakukan perbuatan tercela.

Selain itu dalam sejarah Nabi Muhammad SAW dikisahkan sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki bakat kepemimpinan yang kuat. Muhammad SAW pernah mendamaikan perselisihan para pemimpin Quraisy yang berebut untuk meletakkan Batu Hitam (Al Hajarul Ashwad) pada saat mereka merenovasi Ka’bah.

Dengan kecerdasannya, Muhammad SAW membentangkan selembar kain dan meletakkan Batu Hitam di atasnya, lalu meminta para pemimpin Quraisy untuk mengangkat tiap ujungnya.

Nabi Muhammad SAW Mendapatkan Wahyu Pertama


Nabi Muhammad SAW Mendapatkan Wahyu Pertama

Sebelum menjadi seorang Rasul, Nabi Muhammad SAW telah mendapatkan beberapa karunia istimewa dari Allah SWT seperti wajahnya yang bersih dan bersinar yang mengalahkan sinar bulan, tumbuh suburnya daerah tempat Halimah (ibu yang menyusui Nabi) padahal tadinya gersang dan kering, dan lain sebagainya. Itulah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang menandakan akan datangnya nabi yang terakhir yang memiliki kedudukan yang tertinggi nantinya.

Pada saat Rasul ingin mendapatkan wahyu pertamanya, Rasul mendapatkan sebuah mimpi Malaikat Jibril menghampirinya. Rasul pun menyendiri di Gua Hira tepatnya di sebelah atas Jabal Nur. Disitulah Rasul diperlihatkan bahwa mimpinya adalah benar.

Malaikat Jibril pun datang kepada Rasul dan turunlah wahyu yang pertama yang ia bawakan dari Allah SWT,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ◌ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ◌ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ◌ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq : 1-4).

Walaupun Nabi merasa ketakutan, disitulah kisal rasul dimulai. Disitulah tempat datangnya Nabi yang terakhir yang akan membawa kedamaian untuk seluruh umat.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW Setelah Diangkat Menjadi Rasul


Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul pada saat menginjak usia 40 tahun. Pada malam 17 Ramadhan yang bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi, Muhammad SAW didatangi oleh Jibril saat berdiam diri di Gua Hira, menurunkan wahyu yang pertama.

Setelah peristiwa tersebut, Beliau mulai mengemban tugas sebagai Rasul yang tidak mudah dan melalui beberapa lika-liku dalam perjalanannya.

1. Dakwah Islam di Makkah
Nabi Muhammad SAW tidak serta merta langsung menerima bahwa dirinya telah terpilih sebagai pembawa perubahan, tidak hanya bagi kaumnya namun bagi dunia. Merasa bahwa tugas tersebut terlalu berat. Hingga turun wahyu yang kedua, Qur’an Surat Al-Muddatsir ayat 1–7, Nabi Muhammad SAW mengurung diri di dalam rumah.

Dengan dorongan semangat dari sang istri, yang menjadi pemeluk Islam pertama, Nabi Muhammad SAW mulai mensyiarkan ajaran baru yang dibawanya. Dimulai dengan keluarga dan sahabat dekatnya.

Adapun orang-orang yang menjadi pengikut pertamanya adalah Khadijah, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, Ali bin Abu Thalib, dan Bilal bin Rabah.

Perlahan namun pasti, satu persatu pemeluk Islam bertambah dan bertambah. Hal ini disebabkan karena akhlak dan budi pekerti Nabi Muhammad SAW yang tidak tercela dan tidak mungkin berkata bohong.

2. Allah SWT Memerintahkan Dakwah secara Terang-terangan
Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah Allah SWT dalam surah Al-Hijr ayat 94 dan memerintahkan Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

3. Tahun Kesedihan
Tiga belas tahun berdakwah menyiarkan Islam di Makkah, bukan tanpa halangan. Mulai dari kehilangan harta, diasingkan, tudingan sebagai orang gila, hingga hujatan diterima dari kaum Quraisy.

Yang paling parah adalah pemboikotan yang dilakukan kepada keluarganya, Bani Hasyim dan Bani Muththalib, baik yang sudah Islam maupun yang memberikan bantuan terhadap usaha Nabi Muhammad SAW.

Belum kering luka yang diterima akibat pemboikotan terhadap keluarganya, sang paman yang telah mengasuh dan membesarkannya meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Tak beselang lama, Khadijah sang istri menyusul.

4. Peristiwa Isra’ Mi’raj
Pada tahun ke-11 kenabian terjadi peristiwa yang menyedihkan. Tahun ini sering disebut dengan tahun kesedihan karena pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah wafat pada tahun tersebut.

Setelah peristiwa tersebut, Allah SWT kemudian mengutus Malaikat Jibril untuk mendampingi Rasul dalam melakukan perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis di Palestina) yang disebut dengan Isra’ yang dimana setelah itu Rasulullah melakukan perjalanan kembali dari Masjidil Aqsa ke langit ke tujuh sampai Sidratul Muntaha yang disebut sebagai Mi’raj. Disitulah, Rasulullah mendapatkan perintah sholat 5 waktu yang wajib dikerjakan seluruh umat Islam.

Peristiwa ini terjadi pada 27 Rajab tahun ke-11 kenabian. Menurut para ahli sejarah Nabi Muhammad SAW, hikmah peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini adalah untuk memperkuat iman dan keyakinan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul yang menyiarkan agama Islam. Serta bentuk ujian ketaatan bagi kaum Muslim.

5. Hijrah Ke Madinah
Madinah, yang kala itu bernama Yastrib, adalah tempat yang berjarak 14 hari perjalanan ke sebelah utara Makkah. Di Yastrib, praktik keagamaan lebih mudah diterima dan jumlah pemeluk Islam di sana jauh lebih besar dibandingkan di Makkah.

Islam tersebar ke Yastrib melalui para jamaah haji yang berkunjung ke Makkah dan meyakini kebenaran dakwah Nabi Muhammad SAW. Melihat perkembangan Islam di Yastrib, perlahan Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat untuk berhijrah ke sana.

Kabar akan rencana kepindahan Nabi Muhammad SAW terdengar oleh kaum Quraisy, sehingga disusunlah rencana pembunuhan. Namun, rencana tersebut tidak berhasil karena atas perintah Allah SWT, Nabi Muhammad SAW mempercepat keberangkatan beliau.

Peristiwa berhijrah berdasarkan sejarah Nabi Muhammad SAW terjadi pada tahun ke-13 kenabian. Tanggal 8 Rabi’ulawal tahun 1 Hijrah, Nabi Muhammad SAW mendirikan Masjid Quba, sekitar 10 kilometer dari Yastrib. Dan pada 12 Rabi’ulawal pada tahun yang sama, tibalah Nabi Muhammad SAW bersama dengan Abu Bakar dan Ali bin Abi di Yastrib.

Nama Yastrib berubah menjadi Madinatun Nabi (kotanya Nabi) dan dikenal dengan sebutan Madinah.

6. Perintah Berzakat di Zaman Rasulullah SAW
Pada zaman Rasulullah SAW di tahun pertama di Madinah, Nabi dan para sahabatnya beserta segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Mekah ke Madinah) masih dihadapkan kepada bagaimana menjalankan usaha penghidupan di tempat baru tersebut. Hal ini dikarenakan, selain memang tidak semua di antara mereka orang yang berkecukupan, kecuali Usman bin Affan, semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki juga ditinggal di Mekah.

Saat kondisi kaum Muslimin sudah mulai sejahtera, tepatnya pada tahun kedua Hijriyah, barulah kewajiban zakat diberlakukan. Nabi Muhammad SAW langsung mengutus Mu’adz bin Jabal menjadi Qadli di Yaman. Rasul pun memberikan nasihat kepadanya supaya menyampaikan kepada ahli kitab beberapa hal, termasuk menyampaikan kewajiban zakat dengan ucapan,

“Sampaikan bahwa Allah SWT telah mewajibkan zakat kepada harta benda mereka, yang dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka,” sebagai kepala negara saat itu, ucapan Rasul langsung ditaati oleh seluruh umat muslim tanpa ada perlawanan.

Harta benda yang dizakati di zaman Rasulullah SAW yakni, binatang ternak seperti kambing, sapi, unta, kemudian barang berharga seperti emas dan perak, selanjutnya tumbuh-tumbuhan seperti syair (jelai), gandum, anggur kering (kismis), serta kurma. Namun kemudian, berkembang jenisnya sejalan dengan sifat perkembangan pada harta atau sifat penerimaan untuk diperkembangkan pada harta itu sendiri, yang dinamakan “illat”. Berdasarkan “Illat” itulah ditetapkan hukum zakat.

Prinsip zakat yang diajarkan Rasulullah SAW adalah mengajarkan berbagi dan kepedulian, oleh sebab itu zakat harus mampu menumbuhkan rasa empati serta saling mendukung terhadap sesama muslim. Dengan kata lain, zakat harus mampu mengubah kehidupan masyarakat, khususnya umat muslim.

7. Haji Wada’ dan Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Perkembangan dakwah Islam mencapai puncaknya setelah masa hijrah. Di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, Madinah berkembang menjadi kota yang beradab dalam segala segi, baik ekonomi, politik, hingga keamanan militer. Para utusan kabilah-kabilah Arab datang untuk menyatakan keislaman.

Tahun ke-10 setelah hijrah, Nabi Muhammad SAW bermaksud melakukan Haji dengan diikuti oleh 100.000 kaum muslimin. Pada saat berpidato di bukit ‘Arafah tanggal 9 Dzulhijah tahun 10 Hijrah, turunlah wahyu yang terakhir, Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 3 yang berisi tentang kesempurnaan Islam.

Selesailah sudah tugas Nabi Muhammad SAW di dunia. Peristiwa ini dikenal dengan nama Haji Wada’ (Haji Perpisahan). Sekitar tiga bulan setelahnya, Nabi Muhammad SAW jatuh sakit dan tiga hari kemudian wafat pada tanggal 12 Rabi’ulawal tahun 11 Hijrah dalam usia 63 tahun.

Pada saat Abu Bakar sedang tidak di Madinah, terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan dimana Nabi Muhammad SAW wafat. Pada saat Abu Bakar diberitahu, beliau segera datang ke rumah Aisyah.

Beliau mengucapkan pidato, “Ketahuilah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad kini telah mati, dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah tetap senantiasa hidup tidak akan perna mati.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (QS. Az-Zumar: 30)

Nabi Muhammad SAW meninggalkan peninggalan yang sangat berharga setelah kepergiannya. Tak hanya Islam, peninggalan Nabi Muhammad SAW lainnya adalah beralihnya bangsa Arab dari kumpulan masyarakat yang bodoh dan tidak beradab menjadi bangsa yang terpandang di dunia.

Sejak diislamkan oleh Nabi Muhammad SAW, tidak ada lagi penyembahan berhala di tanah Arab. Adab masyarakatnya pun berkembang, alih-alih persengketaan yang berakhir dengan pertumpahan darah, mereka akan mengembalikannya sesuai ajaran Islam dan tuntunan Rasul SAW.

Mental masyarakat pun berubah dengan menyadari pentingnya disiplin dan taat. Dari segi politik, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW mewariskan sebuah negara Islam yang memiliki satu pemimpin. Tak ada lagi peperangan dan pertikaian antar suku dan/atau kabilah. Yang adalah persaudaraan sebagai sesama muslim.

Capaian sejarah Nabi Muhammad SAW ini tak akan pernah bisa dicatat ulang oleh manusia lain. Tak ada manusia lain selain Nabi Muhammad SAW yang berhasil melakukan perubahan adab suatu bangsa hanya dalam kurun waktu 23 tahun saja. Maha Kuasa Allah SWT atas segala kehendak-Nya.

Referensi :
http://zakat.or.id/kisah-rasul-nabi-muhammad-saw/
https://www.romadecade.org/sejarah-nabi-muhammad-saw/
https://id.theasianparent.com/kisah-nabi-muhammad-untuk-anak/